Ajak Hilangkan Politik Identitas, Romo Benny : Gunakan Politik Rasional

Benny Susetyo

JAKARTA, crowdpainter.com – Pakar komunikasi politik, Romo Antonius Benny Susetyo menilai bahwa politik identitas yang mengarah kepada terciptanya polarisasi dan keterbelahan di kalangan masyarakat karena sentimen politik harus dihilangkan dari Indonesia.

Hal ini disampaikan Benny sesuai dengan semangat Presiden Joko Widodo terkait dengan dinamika politik identitas di kalangan masyarakat.

“Jangan lagi me memanupulasi politik identitas yang menciptakan masyarakat yang terbelah,” kata Benny dalam keterangannya>, Selasa (16/8).

Ia mengatakan, semenjak tahun 2014 hingga saat ini, politik identitas yang menciptakan polarisasi di kalangan masyarakat masih terus terjadi. Situasi itu menurutnya sangat tidak baik bagi sosial politik di dalam negeri.

“Masyarakat mengalami distrust karena politik identitas ini,” ujarnya.

Alumni Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang tersebut mengatakan, bahwa politik identitas cenderung digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk membuat keterbelahan di kalangan masyarakat dengan dalih agama, etnis, suku maupun golongan tertentu. Tujuannya adalah untuk membakar emosi publik agar sentimen-sentimen yang dibangun tercapat.

Efek samping yang paling kentara menurut Benny adalah munculnya adu domba dan saling hasut antar masyarakat dengan masyarakat lainnya. Cara berfikir publik cenderung kurang rasional bahkan sama sekali tidak rasional, karena sentimen yang terbangun hanya digelorakan di dalam emosi semata.

“Emosi publik ditinggikan demi mendapatkan kekuasaan dan suara tanpa adanya gagasan dan pemikiran,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Romo Benny pun mengajak semua masyarakat dan stakeholder, termasuk kaum elite untuk menghentikan politik identitas yang mengarah kepada pecah belah bangsa itu.

“Akhiri sekarang, mari gunakan politik rasional, adu gagasan, program, konsep, sehingga masyarakat memiliki kecerdasan dalam memilih calon pemimpinnya, yang berkualitas dan tidak menjual label SARA,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.